Ippho Santosa :
Assalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh
Selamat Pagi teman-teman..
Akhir-akhir ini negeri
kita selalu dilanda bencana. Lebih baiknya kita berbaik sangka, bisa
jadi ini teguran atau peringatan untuk kita. Apabila kita pelajari, sebenarnya sedekah juga dapat menolak bala atau bencana.
Apa yang biasa terjadi pada kita? Biasanya kita begini, bencana alam
dulu, barulah kita akhirnya sedekah besar-besaran, lunasi besar-besaran.
Kenapa tidak dibalik saja? kita pakai otak kanan, kita sedekah
besar-besaran, kita lunasi besar-besaran, mudah-mudahan bencana tidak
terjadi. Jadi dibalik caranya. Persis seperti ilmu sedekah yang dulu pernah saya (Ippho-pen)
ajarkan. Orang-orang biasa begini, cukup dulu baru sedekah. Mendingan
kita balik, sedekah dulu baru cukup. Ada lagi yang dagang atau buka
usaha atau bisnis, untung dulu baru sedekah. Ini nggak bagus dan nggak baik menurut saya. Yang bagus adalah sedekah dulu, InsyaAllah nanti jadinya untung.
Tidak ada
orang yang mau bencana terjadi. Namun, andaikata terjadi bagaimana
menyikapinya? andaikata ini belum terjadi, bagaimana juga menyikapinya?
saya berikan solusi, yaitu dengan sedekah. Pertama, janji Nabi bahwa
sedekah menolak bala, keduanya bahwa sedekah itu juga menunjukkan bahwa
kita masih peduli dengan orang lain. Kita biasanya, orang lain itu susah
dulu atau terkena bencana dulu baru kita peduli. Kenapa tidak kita
balik, sebelum ada bencana atau musibah kita peduli dulu dengan dia. Sedekah adalah bukti kongkret bahwa kita peduli dengan yang lain.
Saya teringat pada suatu waktu, yaitu ketika gempa di Padang terjadi. Saya menerima sebuah kabar luar
biasa. Jadi, sebelum gempa terjadi, ada seorang ibu yang memasak
masakan di sebuah periuk. Rencananya, masakannya itu akan dibagikan ke
orang sebagai sedekah. Lalu apa yang terjadi? terjadilah gempa, yang
merusak rumah di sebagian Padang, termasuk juga rumah ibu tersebut. Akan tetapi, di rumah itu hanya ada satu ruangan yang tidak hancur, yaitu dapur tempat periuk masakan tersebut berada.
Subhanallah. Jadi, telah terbukti dalam skala kecil dimana sudah
berniat sedekah saja, meski belum dilaksanakan ternyata mampu
menyelamatkan makanan, rumah, termasuk ibu tersebut. Artinya ternyata
sedekah itu memang bisa menolak bala.
Saya pun teringat pada waktu saya selesai mengisi suatu seminar
di Samarinda, saya pulang dengan teman saya. Waktu itu teman saya yang
menyetir mobil. Tahu-tahu, ketika udah ngantuk ada truk yang saat itu di
depan kita. Jebret!! kalau dilihat dengan mata kami berdua, seolah-olah
truk itu sudah menabrak kami. Tapi entah kenapa, meskipun sudah
tabrakan, ternyata tidak terjadi tabrakan. Saat itu saya langsung bilang
pada temen saya. Bisa jadi, semalam kan kita punya acara seminar, kita
juga sudah sedekah dan mengajak orang-orang untuk sedekah. Mungkin
inilah yang menolong kita sehingga kita terhindar dari bencana tabrakan
tersebut. Jadi, sebenarnya sedekah itu laksana bodyguard untuk kita.
Apabila kita sedekah, pertama kita mempunyai dokter pribadi, karena
sedekah dapat menjaga kesehatan kita. Kedua, kita jadi punya bodyguard yang akan menjaga keselamatan kita. Memang,
Allah yang menyelamatkan, Allah yang memelihara kita, sedangkan
caranya, wasilahnya, atau perantaranya ya lewat sedekah itu.
Saya yakin teman-teman juga punya cerita tentang keajaiban ini. Dengar
dari teman atau pengalaman pribadi. Sayangnya kita tidak sadar dan
menjadikannya sebagai rumus. Cobalah mulai sekarang jadikan ini sebagai
formula, untuk memelihara diri kita juga keluarga kita dengan sedekah.
Kali ini saya akan memanggil teman saya, Pak Ahmad
Gozali, yang juga seorang pakar perencanaan keuangan. Saya akan mengajak
dia untuk mengajarkan kepada kita bagaimana sedekah dilihat dalam
perspektif perencanaan keuangan.
Ahmad Gozali (Agoz) :
Sebenarnya, perencanaan keuangan itu bukan hanya
bicara bagaimana cara mendapatkan, mengelola, dan mendistribusikan
harta. Ada satu lagi, yaitu bagaimana caranya kita mengantisipasi
terhadap resiko. Resiko itu bisa terjadi secara pribadi, misalnya sakit,
kecelakaan, kebakaran rumah, dsb. Bisa juga resiko terjadi secara makro
atau global seperti gempa. Maka, karena itulah kita perlu sebuah
manajemen resiko. Dalam keuangan, saya mempunyai rumus manajemen resiko, ada tiga langkah. Pertama sedekah, kemudian saving (menabung-pen), dan baru yang ketiganya adalah asuransi.
Selama ini orang bilang bahwa kalau ada manajemen resiko artinya kita
harus memiliki asuransi. Tidak benar, asuransi itu justru di nomor tiga,
sedangkan yang pertama adalah sedekah. Kenapa? karena Rasulullah telah
menjelaskan bahwa sedekah itu menolak bala/bencana. Artinya,
apabila ada resiko akan datang, mungkin nggak jadi tuh. Dengan kita
bersedekah artinya kita akan terhindar dari resiko-resiko. Akan tetapi,
itu hanya pada diri kita, padahal bencana bisa terjadi pada skala besar
atau makro. Tetap kita tidak bisa terhindar dari resiko itu. Makanya,
langkah kedua adalah saving. Rasulullah menjelaskan pula bahwa hendaklah kamu menyimpan untuk berjaga-jaga saat miskin dan membutuhkan,
tetapi tidak boleh terlalu banyak disini, cuma sekedar berjaga-jaga,
seperti misalnya jika anak kita sedang sakit harus ada dana untuk masuk
rumah sakit. Atau ketika mobil kita mogok hingga kita harus keluar biaya perbaikannya. Benteng yang ketiga adalah asuransi. Jadi, sedekah
itu menolak bencana, saving adalah ketika sudah kejadian kita dapat
menutupinya, yang ketiga kita secara bersama-sama membantu orang lain
lewat asuransi. Karena sistem asuransi berdasarkan syariah
adalah kita patungan untuk mengumpulkan dana bersama. Kalau ada orang
yang kena musibah, dana itu akan dicairkan untuk orang yang terkena
musibah yang sama. Ini mirip-mirip dengan arisan keluarga, dimana kita
semua mengumpulkan iuran, dan ketika ada yang membutuhkan kita keluarkan
untuk santunan. Nah, itu santunan secara kolektif, asuransi syariah pun
demikian.
Yang pertama tetaplah sedekah, sedekah menolak bencana sehingga tidak terjadi. sedangkan saving atau asuransi itu mengantisipasi kalau sudah terjadi. Begitu
Ippho Santosa:
Jadi, yang saya tangkap dari penjelasannya Pak Ghozali, sebenarnya bukan orang lain yang membutuhkan sedekah, tetapi justru kita yang membutuhkannya.
Kita sering bilang orang ini membutuhkan sedekah karena bencana, sedang
miskin, atau sedang susah. Sebenarnya bisa benar atau tidak. Namun yang
paling benar adalah, sebenarnya kitalah yang paling butuh untuk
sedekah. Sekali lagi bukan orang lain yang membutuhkan, tetapi justru
kita sendiri. Tentunya agar kita lebih sehat, lebih terpelihara, dan
agar kita terhindar dari bencana. Plus pahala juga tentunya.
Ujung-ujungnya tetap kembali ke kita. Jangankan kita yang mudah-mudahan
orang beriman. Orang atheis saja percaya bahwa memberi itu akan kembali kepada dia. Masak kita orang beriman tidak percaya?
OK, mungkin itu saja sharing singkat untuk pagi ini
Assalamualaykum warahmatulloh wabarakatuh. Selamat Pagi teman-teman
Semoga berkah, berlimpah
***
Tulisan ini adalah hasil penyampaian dalam bentuk
tulisan dari sebuah Acara di Trans7, yaitu Pintu Rezeki. Ditayangkan
setiap Selasa dan Rabu pukul 04.50 - 05.00 WIB (06.50 - 07.00 WIT). Saya
berusaha menuliskannya setiap episode untuk teman-teman yang tidak
sempat menonton karena barangkali masih di Masjid atau sudah bersiap
berangkat bekerja.
Semoga bermanfaat













0 komentar