Sebuah Blog yang memberi Motivasi, bisnis dan ilmu

Rabu, 25 Desember 2013

Sedekah, Menabung, dan Asuransi

Ippho Santosa :
Assalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh
Selamat Pagi teman-teman..
Akhir-akhir ini negeri kita selalu dilanda bencana. Lebih baiknya kita berbaik sangka, bisa jadi ini teguran atau peringatan untuk kita. Apabila kita pelajari, sebenarnya sedekah juga dapat menolak bala atau bencana. Apa yang biasa terjadi pada kita? Biasanya kita begini, bencana alam dulu, barulah kita akhirnya sedekah besar-besaran, lunasi besar-besaran. Kenapa tidak dibalik saja? kita pakai otak kanan, kita sedekah besar-besaran, kita lunasi besar-besaran, mudah-mudahan bencana tidak terjadi. Jadi dibalik caranya. Persis seperti ilmu sedekah yang dulu pernah saya (Ippho-pen) ajarkan. Orang-orang biasa begini, cukup dulu baru sedekah. Mendingan kita balik, sedekah dulu baru cukup. Ada lagi yang dagang atau buka usaha atau bisnis, untung dulu baru sedekah. Ini nggak bagus dan nggak baik menurut saya. Yang bagus adalah sedekah dulu, InsyaAllah nanti jadinya untung.
Tidak ada orang yang mau bencana terjadi. Namun, andaikata terjadi bagaimana menyikapinya? andaikata ini belum terjadi, bagaimana juga menyikapinya? saya berikan solusi, yaitu dengan sedekah. Pertama, janji Nabi bahwa sedekah menolak bala, keduanya bahwa sedekah itu juga menunjukkan bahwa kita masih peduli dengan orang lain. Kita biasanya, orang lain itu susah dulu atau terkena bencana dulu baru kita peduli. Kenapa tidak kita balik, sebelum ada bencana atau musibah kita peduli dulu dengan dia. Sedekah adalah bukti kongkret bahwa kita peduli dengan yang lain.
Saya teringat pada suatu waktu, yaitu ketika gempa di Padang terjadi. Saya menerima sebuah kabar luar biasa. Jadi, sebelum gempa terjadi, ada seorang ibu yang memasak masakan di sebuah periuk. Rencananya, masakannya itu akan dibagikan ke orang sebagai sedekah. Lalu apa yang terjadi? terjadilah gempa, yang merusak rumah di sebagian Padang, termasuk juga rumah ibu tersebut. Akan tetapi, di rumah itu hanya ada satu ruangan yang tidak hancur, yaitu dapur tempat periuk masakan tersebut berada. Subhanallah. Jadi, telah terbukti dalam skala kecil dimana sudah berniat sedekah saja, meski belum dilaksanakan ternyata mampu menyelamatkan makanan, rumah, termasuk ibu tersebut. Artinya ternyata sedekah itu memang bisa menolak bala.
Saya pun teringat pada waktu saya selesai mengisi suatu seminar di Samarinda, saya pulang dengan teman saya. Waktu itu teman saya yang menyetir mobil. Tahu-tahu, ketika udah ngantuk ada truk yang saat itu di depan kita. Jebret!! kalau dilihat dengan mata kami berdua, seolah-olah truk itu sudah menabrak kami. Tapi entah kenapa, meskipun sudah tabrakan, ternyata tidak terjadi tabrakan. Saat itu saya langsung bilang pada temen saya. Bisa jadi, semalam kan kita punya acara seminar, kita juga sudah sedekah dan mengajak orang-orang untuk sedekah. Mungkin inilah yang menolong kita sehingga kita terhindar dari bencana tabrakan tersebut. Jadi, sebenarnya sedekah itu laksana bodyguard untuk kita. Apabila kita sedekah, pertama kita mempunyai dokter pribadi, karena sedekah dapat menjaga kesehatan kita. Kedua, kita jadi punya bodyguard yang akan menjaga keselamatan kita. Memang, Allah yang menyelamatkan, Allah yang memelihara kita, sedangkan caranya, wasilahnya, atau perantaranya ya lewat sedekah itu. Saya yakin teman-teman juga punya cerita tentang keajaiban ini. Dengar dari teman atau pengalaman pribadi. Sayangnya kita tidak sadar dan menjadikannya sebagai rumus. Cobalah mulai sekarang jadikan ini sebagai formula, untuk memelihara diri kita juga keluarga kita dengan sedekah.
Kali ini saya akan memanggil teman saya, Pak Ahmad Gozali, yang juga seorang pakar perencanaan keuangan. Saya akan mengajak dia untuk mengajarkan kepada kita bagaimana sedekah dilihat dalam perspektif perencanaan keuangan.
Ahmad Gozali (Agoz) :
Sebenarnya, perencanaan keuangan itu bukan hanya bicara bagaimana cara mendapatkan, mengelola, dan mendistribusikan harta. Ada satu lagi, yaitu bagaimana caranya kita mengantisipasi terhadap resiko. Resiko itu bisa terjadi secara pribadi, misalnya sakit, kecelakaan, kebakaran rumah, dsb. Bisa juga resiko terjadi secara makro atau global seperti gempa. Maka, karena itulah kita perlu sebuah manajemen resiko. Dalam keuangan, saya mempunyai rumus manajemen resiko, ada tiga langkah. Pertama sedekah, kemudian saving (menabung-pen), dan baru yang ketiganya adalah asuransi. Selama ini orang bilang bahwa kalau ada manajemen resiko artinya kita harus memiliki asuransi. Tidak benar, asuransi itu justru di nomor tiga, sedangkan yang pertama adalah sedekah. Kenapa? karena Rasulullah telah menjelaskan bahwa sedekah itu menolak bala/bencana. Artinya, apabila ada resiko akan datang, mungkin nggak jadi tuh. Dengan kita bersedekah artinya kita akan terhindar dari resiko-resiko. Akan tetapi, itu hanya pada diri kita, padahal bencana bisa terjadi pada skala besar atau makro. Tetap kita tidak bisa terhindar dari resiko itu. Makanya, langkah kedua adalah saving. Rasulullah menjelaskan pula bahwa hendaklah kamu menyimpan untuk berjaga-jaga saat miskin dan membutuhkan, tetapi tidak boleh terlalu banyak disini, cuma sekedar berjaga-jaga, seperti misalnya jika anak kita sedang sakit harus ada dana untuk masuk rumah sakit. Atau ketika mobil kita mogok hingga kita harus keluar biaya perbaikannya. Benteng yang ketiga adalah asuransi. Jadi, sedekah itu menolak bencana, saving adalah ketika sudah kejadian kita dapat menutupinya, yang ketiga kita secara bersama-sama membantu orang lain lewat asuransi. Karena sistem asuransi berdasarkan syariah adalah kita patungan untuk mengumpulkan dana bersama. Kalau ada orang yang kena musibah, dana itu akan dicairkan untuk orang yang terkena musibah yang sama. Ini mirip-mirip dengan arisan keluarga, dimana kita semua mengumpulkan iuran, dan ketika ada yang membutuhkan kita keluarkan untuk santunan. Nah, itu santunan secara kolektif, asuransi syariah pun demikian.
Yang pertama tetaplah sedekah, sedekah menolak bencana sehingga tidak terjadi. sedangkan saving atau asuransi itu mengantisipasi kalau sudah terjadi. Begitu
Ippho Santosa:
Jadi, yang saya tangkap dari penjelasannya Pak Ghozali, sebenarnya bukan orang lain yang membutuhkan sedekah, tetapi justru kita yang membutuhkannya. Kita sering bilang orang ini membutuhkan sedekah karena bencana, sedang miskin, atau sedang susah. Sebenarnya bisa benar atau tidak. Namun yang paling benar adalah, sebenarnya kitalah yang paling butuh untuk sedekah. Sekali lagi bukan orang lain yang membutuhkan, tetapi justru kita sendiri. Tentunya agar kita lebih sehat, lebih terpelihara, dan agar kita terhindar dari bencana. Plus pahala juga tentunya. Ujung-ujungnya tetap kembali ke kita. Jangankan kita yang mudah-mudahan orang beriman. Orang atheis saja percaya bahwa memberi itu akan kembali kepada dia. Masak kita orang beriman tidak percaya?
OK, mungkin itu saja sharing singkat untuk pagi ini
Assalamualaykum warahmatulloh wabarakatuh. Selamat Pagi teman-teman
Semoga berkah, berlimpah
***
Tulisan ini adalah hasil penyampaian dalam bentuk tulisan dari sebuah Acara di Trans7, yaitu Pintu Rezeki. Ditayangkan setiap Selasa dan Rabu pukul 04.50 - 05.00 WIB (06.50 - 07.00 WIT). Saya berusaha menuliskannya setiap episode untuk teman-teman yang tidak sempat menonton karena barangkali masih di Masjid atau sudah bersiap berangkat bekerja.
Semoga bermanfaat
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© BAROKAH BISNIS
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSS ∙ Comments RSS
Back to top