Ippho Santosa :
Assalamualaykum warahmatullohi wabarakatuh.
Selamat Pagi teman-teman.
Kali ini kita akan membahas mengenai mendisiplinkan
rezeki. kalau kita disiplin rezeki juga akan disiplin datang ke kita.
Saya akan bercerita sedikit. Saat saya kuliah, saya mempunyai beberapa
orang tua angkat. Salah satunya adalah Bapak Ahmad Faiz, dia orang Malaysia. Dia adalah dosen saya, sedangkan saya tinggal di asrama. Sebagai orang tua angkat, dia begitu baik. Saat saya akan pulang ke Indonesia, saya dikasih uang transport. Meski saya menolak, tetap saja dipaksa. Saya juga dipinjami mobil,
rumah, dikasih makanan, dll. Karena sering dikasih, saya jadi malu
sendiri hingga mencuri-curi agar ia tak melihat saya, karena kalau
ketemu beliau, ia pasti langsung memberi sesuatu. Suatu hari, saat saya
mau ujian, dia memanggil saya ker rumahnya dan kali ini memberikan
sebuah buku untuk saya pelajari, dan mendoakan agar besok ujiannya
mudah. Dan ketika selesai ujian pun, nilai saya pada mata kuliah yang
beliau ajar itu kok biasa-biasa saja, tidak terlalu tinggi. “Kok beliau
tidak membantu saya untuk hal ini?”, begitu saya berpikir waktu itu.
Namun setelah saya pikir-pikir, saya justru kagum dengan dia. Walaupun ia sebagai orang tua angkat saya, dan menganggap saya sebagai anak, tetapi dia menjaga nilai-nilai.
Uang mungkin dia kasih, mobil bisa dipinjamkan, tetapi untuk soal ujian
tidak akan ia bocorkan. Ia menurut saya, mempunyai disiplin yang luar biasa, dan menjaga nilai dengan luar biasa pula.
Menurut saya kita tidak perlu nuding pemerintah, atau sana-sini. Kita mulai dari diri kita sendiri, mulai dari keluarga kita, keluarga besar kita, dan seterusnya.
Jadi, disiplin itu memudahkan rezeki, baik berupa materi maupun
kesehatan. Pada tim bisnis saya, kalau mereka tidak disiplin, sering
saya marahi. Saya bilang, apa yang bisa kita capai jikalau kita tidak
disiplin. Tidak ada pencapaian besar yang bisa kita dapat tanpa disiplin.
Kalau disiplin, hidup kita akan terpola dengan sangat baik, akhirnya
lebih terstruktur langkah-langkah kita semua. Jadi, imajinasi boleh,
otak kanan boleh, tetapi ketika kita sudah mulai implementasi, ini harus
benar-benar terukur dan terstruktur.
Nah, terkait disiplin ini, saya ingin memanggil
teman saya, beliau adalah seorang polisi. Beliau sholat dhuhanya rutin,
tahajudnya rutin, puasa Senin-Kamisnya juga rutin, dan bukan hanya itu,
dia juga merutinkan timnya untuk beribadah tersebut. Beliau bernama pak
Enjang, Kapolres di Garut.
AKBP Enjang :
Saya pribadi, merasa bahwa disiplin itu sama dengan
menghargai diri sendiri. Ketika kita sudah komitmen untuk disiplin,
yang harus kita lakukan adalah pertama mendisiplinkan diri sendiri,
caranya mulai dari kegiatan-kegiatan pribadi dulu. Sebagai seorang muslim, saya biasa bangun pagi jam tiga. Kemudian mandi, lalu sholat tahajjud, dan kemudian berangkat ke masjid.
Kebetulan masjid di sana dekat jadi bisa ditempuh dengan jalan kaki.
Sesampainya di sana seperti biasanya tentu saja sholat Sunnah kemudian
sholat berjamaah dan dilanjutkan dengan dialog bakda Shubuh. Tiap hari
dialog itu dilakukan. Banyak orang beranggapan bahwa untuk bertemu
dengan Kapolres itu sulit, maka saya sempatkan waktu dari jam 5 s.d 5.45
untuk menerima siapa saja yang hadir disitu, dari golongan mana saja,
dan agama apapun juga. Pernah kami kedatangan seorang dari gereja,
kemudian kita berdialog masalah-masalah sosial yang ada di sana.
Setelah dialog itu, kami kembali untuk menyiapkan
apel pagi. Nah, untuk hal ini kalau saya ingin segenap anak buah
disiplin, yang harus saya lakukan adalah saya sendiri harus disiplin.
Apel pagi di kantor adalah jam tujuh. Jam tujuh tepat atau jam enam tiga
puluh saya sudah berdiri di sana. Jadi tidak perlu menguprek-uprek
mereka untuk disiplin, asal diri sendiri saya memberi contoh, otomatis mereka akan hadir.
Kemudian, sejak pertama kali saya di polres itu, saya tekankan bahwa
apel pagi adalah wajib. Untuk sekarang, saya katakan kembali bahwa halal
hukumnya tidak apel pagi jika tidak melihat Kapolres tidak apel pagi.
Jadi karena sudah dirutinkan setiap hari, anak buah yang sebelumnya
hanya sedikit yang ikut, sekarang mereka otomatis datang, tanpa perlu
dihukum atau harus melakukan apapun.
Yang kedua bicara mengenai kebersihan. Saya katakan
bahwa kebersihan bisa diibaratkan sebagai ibunya segala kejahatan
(mungkin salah ngomong-pen). Jadi kalau mau bersih dan ingin kriminalitas turun, maka bersihkan dulu lingkungan.
Kapolres harus bisa bersih dulu. Salah satunya adalah jika ada sampah,
saya pungut saja dulu. Meskipun Kapolres, saya pun juga masih menyapu.
Salah satunya adalah dalam kegiatan bakda sholat Shubuh di Masjid Agung.
Saya ambil sapu lalu menyapu, dan lama kelamaan semua anggota ikut
menyapu. Jadi sekarang setiap hari Jumat pagi, setelah sholat Shubuh,
kurang lebih ada sekitar empat ratus anggota kami dari Polres dan
beberapa dari Polsek semuanya ikut menyapu. Setelah minggu ke dua belas kami melakukan ini, ternyata semua elemen masyarakat juga ikut-ikutan menyapu.
Dalam hitungan menit, alun-alun, pendopo, jalan-jalan semuanya langsung
menjadi bersih. Semuanya ikut. Ini bukan hanya dari Islam, tetapi sudah
lintas agama. Dari gereja juga ada yang ikut.
Ippho Santosa :
Wah, saya mendengarnya saja merinding Pak. Jadi ternyata kedisiplinan itu menular. Kalau kita mampu mendisiplinkan diri kita, otomatis keluarga kita, keluarga besar kita, dan tim kita akan ikut disiplin juga.
OK, cukup sampai disini dulu sharing kita pada pagi hari ini.
Assalamualaykum. Selamat Pagi teman-teman
Semoga berkah, berlimpah
***
Tulisan ini adalah hasil penyampaian dalam
bentuk tulisan dari sebuah Acara di Trans7, yaitu Pintu Rezeki.
Ditayangkan setiap Selasa dan Rabu pukul 04.50 - 05.00 WIB (06.50 -
07.00 WIT). Saya berusaha menuliskannya setiap episode untuk teman-teman
yang tidak sempat menonton karena barangkali masih di Masjid atau sudah
bersiap berangkat bekerja.
Semoga bermanfaat














0 komentar